Pendidikan Islam di Indonesia terus mengalami perkembangan, namun Strategi Pesantren Modern tetap menaruh perhatian besar pada pelestarian nilai-nilai lama yang terbukti efektif. Di tengah gempuran kurikulum formal yang padat, upaya dalam Mempertahankan Tradisi Sorogan menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola lembaga. Sorogan dianggap sebagai ruh dari pendidikan pesantren karena mencerminkan sistem pembelajaran yang sangat manusiawi dan berfokus pada perkembangan individu masing-masing santri. Pengintegrasian metode ini ke dalam jadwal sekolah formal dilakukan agar santri tetap memiliki kemampuan membaca kitab kuning yang mumpuni tanpa tertinggal dalam pelajaran umum.
Salah satu langkah nyata dalam Strategi Pesantren Modern adalah dengan mengatur waktu belajar yang lebih fleksibel. Jika dahulu sorogan dilakukan secara bebas tanpa batasan waktu, kini banyak pesantren yang mengalokasikannya pada waktu fajar atau setelah ibadah malam. Hal ini dilakukan agar intensitas interaksi antara kiai dan santri tetap terjaga meskipun kesibukan akademik meningkat. Tradisi Sorogan tidak boleh hilang karena metode inilah yang menjamin sanad keilmuan seorang pelajar tersambung secara jelas hingga ke penulis kitab aslinya. Kedalaman sanad ini menjadi prestise tersendiri bagi sebuah lembaga pendidikan Islam.
Selain pengaturan waktu, penggunaan asisten pengajar atau ustadz muda juga menjadi bagian dari upaya Mempertahankan Tradisi Sorogan. Mengingat jumlah santri yang semakin membeludak di Pesantren Modern, seorang kiai tunggal tentu tidak akan sanggup menyimak bacaan ribuan santri setiap hari. Oleh karena itu, para santri senior yang sudah mumpuni diberdayakan untuk membimbing adik kelasnya. Sistem ini menciptakan siklus belajar-mengajar yang berkelanjutan dan mempercepat pemerataan kualitas keilmuan di dalam pondok. Santri senior belajar cara mendidik, sementara santri junior mendapatkan bimbingan yang lebih intensif setiap saat.
Pemanfaatan teknologi juga mulai dilibatkan untuk menunjang Tradisi Sorogan. Beberapa lembaga mulai menggunakan rekaman suara atau video saat santri berlatih membaca secara mandiri sebelum maju ke hadapan guru. Namun, kehadiran fisik guru tetap menjadi hal yang utama dan tidak tergantikan oleh media apa pun. Sentuhan spiritual dan koreksi langsung secara lisan adalah inti dari Strategi Pesantren Modern agar kualitas lulusannya tetap memiliki ciri khas pesantren yang kental. Dengan demikian, meskipun gedung-gedung sekolah semakin megah dan fasilitas semakin lengkap, ruh keilmuan klasik tetap berdenyut kuat di dalam dada setiap santrinya.
