Tradisi keilmuan di pesantren selalu berpusat pada kajian kitab awal (mutūn) sebelum melangkah ke syarah (komentar). Tujuan dari membedah mutūn ini adalah untuk menanamkan pemahaman fundamental yang kokoh, sebagai panduan menuju petunjuk (hidāyah) spiritual dan intelektual.
Salah satu mutūn yang paling sering dikaji adalah Matan al-Ajurrūmiyyah dalam Nahwu, atau Safinatun Najāh dalam Fikih. Kitab-kitab ini dirancang agar mudah dihafal dan ringkas, memuat intisari kaidah tanpa perdebatan detail (khilāf).
Para santri diajarkan untuk menghafal teks mutūn ini secara keseluruhan. Setelah hafal, guru (kyai) akan mulai membedah setiap kalimat dan istilahnya. Proses ini dilakukan perlahan, memastikan setiap definisi dan kaidah terserap sempurna oleh santri.
Pendekatan pengajaran yang dominan adalah metode bandongan atau sorogan. Dalam bandongan, kyai membaca dan mengartikan kitab awal, sementara santri memberikan makna gandul (terjemahan antar baris) pada kitab mereka.
Proses membedah mutūn ini bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga transmisi sanad (rantai keilmuan) dari guru ke murid. Setiap penjelasan dan interpretasi diyakini memiliki mata rantai yang bersambung hingga penulis mutūn itu sendiri.
Setelah menguasai kitab awal yang ringkas, santri baru akan beralih ke kitab-kitab yang lebih detail dan komprehensif. Kitab awal ini berfungsi sebagai peta dasar yang membantu santri mengorganisir semua informasi baru yang akan mereka terima.
Pemahaman yang kuat terhadap kitab awal memastikan santri memiliki landasan yang benar saat menghadapi perbedaan pendapat di kemudian hari. Mereka mampu membedakan antara prinsip dasar yang disepakati dan isu-isu cabang (furū’) yang diperdebatkan.
Oleh karena itu, tradisi membedah mutūn di pesantren adalah strategi pendidikan yang bijaksana. Hal ini memastikan bahwa perjalanan mencari petunjuk dilakukan dari fondasi yang paling benar, jelas, dan terstruktur secara sistematis.
Pada akhirnya, penguasaan mutūn merupakan penanda kesiapan santri untuk menjadi generasi ulama yang mumpuni. Mereka membawa bekal ilmu yang padat dan teruji sebagai panduan dalam menghadapi tantangan zaman.
