Pembentukan keterampilan kepemimpinan dan keberanian berbicara di depan umum menjadi bagian penting dari kurikulum ekstra kurikuler di lembaga pendidikan Islam. Kegiatan ekstrakurikuler Pidato Santri menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan bahasa Inggris yang diadakan secara berkala untuk mengasah kemampuan komunikasi internasional mereka. Santri dilatih untuk menyusun naskah orasi secara sistematis, menguasai panggung, serta menyampaikan pesan-pesan dakwah yang menyejukkan hati pendengar. Pengurus pesantren mendampingi proses latihan guna memberikan arahan dan koreksi retorika.
Sesi persiapan dimulai dengan penyusunan naskah pidato berisikan tema-tema keagamaan, kebangsaan, atau isu sosial kontemporer yang relevan dengan perkembangan zaman. Santri dibimbing untuk menyelaraskan penggunaan tata bahasa yang benar serta pemilihan kosakata yang indah dalam ketiga bahasa yang berbeda tersebut. Pengingatan kutipan ayat Al-Qur’an dan hadis disisipkan guna memperkuat argumentasi dakwah yang disampaikan dalam naskah orasi. Proses penyusunan naskah ini mengasah kemampuan literasi dan riset materi santri secara mendalam.
Saat hari pementasan tiba, santri tampil berorasi di hadapan ratusan rekan dan para pengajar dengan mengenakan pakaian yang rapi dan elegan. Penguasaan intonasi suara, kontak mata, ekspresi wajah, serta bahasa tubuh diperhatikan secara cermat demi menarik perhatian para hadirin. Keberanian mengatasi rasa gugup di atas panggung besar melatih ketahanan mental dan percaya diri santri secara luar biasa. Pengalaman berharga ini membentuk jiwa kepemimpinan yang tangguh pada diri setiap santri.
Dewan juri dari kalangan pengajar memberikan penilaian objektif yang mencakup aspek kebenaran tata bahasa, kelancaran artikulasi, materi, serta gaya penyampaian panggung. Sesi evaluasi pasca pidato dijadikan sebagai ajang pembelajaran bagi santri untuk mengetahui kelemahan dan area perbaikan untuk penampilan berikutnya. Umpan balik yang konstruktif membantu santri meningkatkan keterampilan orasi mereka secara bertahap dari waktu ke waktu. Santri saling mengapresiasi penampilan rekan sejawat mereka dengan penuh semangat persaudaraan.
Keterampilan berbicara publik dalam tiga bahasa internasional ini menjadi modal yang sangat mahal bagi santri saat terjun ke dunia dakwah dan profesionalisme. Alumni pesantren tidak hanya menguasai ilmu agama yang mendalam, tetapi juga terampil menyampaikan gagasan secara persuasif di tingkat global. Tradisi latihan orasi ini melahirkan tokoh-tokoh pembicara publik dan ulama yang berwawasan luas. Pendidikan di pesantren terus terbukti relevan dalam menjawab tantangan zaman yang semakin dinamis.
