Dunia pendidikan di Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan moral yang cukup serius di tengah gempuran arus informasi yang tak terbendung. Kasus-kasus pelanggaran etika yang melibatkan interaksi antara pengajar dan pelajar sering kali menghiasi pemberitaan media nasional. Merespons kondisi yang memprihatinkan ini, Yayasan Budi Ihsan menginisiasi sebuah gerakan masif yang disebut Kampanye Nasional Budi Ihsan. Gerakan ini bertujuan untuk membangkitkan kembali kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kesopanan dan penghormatan dalam proses belajar mengajar di lembaga pendidikan formal maupun informal di seluruh penjuru negeri.
Inti dari gerakan ini adalah sebuah seruan untuk segera kembalikan adab yang mulai luntur di kalangan generasi muda. Budi Ihsan memandang bahwa kepintaran intelektual tanpa dibarengi dengan karakter yang baik hanya akan melahirkan individu yang cerdas namun tidak beretika. Melalui berbagai sosialisasi di tingkat sekolah dasar hingga menengah, kampanye ini menekankan bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat untuk membentuk jiwa. Seorang murid harus memahami bahwa keberkahan ilmu sangat bergantung pada keridaan dan hormatnya kepada guru yang telah mendidik mereka dengan penuh kesabaran.
Pelaksanaan kampanye ini dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari seminar tatap muka, pemasangan poster edukasi, hingga gerakan di media sosial. Fokus utamanya adalah menyasar perilaku harian murid saat berada di lingkungan sekolah. Hal-hal sederhana seperti cara menyapa guru, mendengarkan saat pelajaran berlangsung, hingga menjaga kebersihan kelas menjadi materi utama dalam edukasi ini. Budi Ihsan percaya bahwa adab adalah fondasi utama bagi kemajuan sebuah bangsa. Jika generasi penerusnya memiliki karakter yang kuat dan santun, maka Indonesia akan memiliki pemimpin-pemimpin masa depan yang amanah dan dihormati oleh dunia internasional.
Dukungan terhadap Kampanye Nasional ini datang dari berbagai pihak, termasuk kementerian terkait, tokoh agama, dan asosiasi orang tua murid. Mereka sepakat bahwa tanggung jawab mendidik karakter anak tidak bisa hanya dibebankan kepada guru di sekolah saja, melainkan harus dimulai dari pendidikan di dalam rumah. Sinergi antara keluarga dan sekolah sangat diperlukan agar nilai-nilai budi pekerti yang diajarkan dapat diterapkan secara konsisten. Budi Ihsan memberikan modul praktis bagi orang tua tentang cara mendampingi anak dalam beretika di era digital, di mana tantangan adab kini juga merambah ke cara berkomunikasi lewat grup pesan singkat.
