Prestasi gemilang diraih oleh santri Pondok Pesantren BUDi IHSAN dalam Musabaqah Qira’atil Kutub Nasional (MQKN). Mereka berhasil membawa pulang gelar juara setelah unggul dalam cabang Fiqih dan Tafsir Klasik. Kemenangan ini bukan sekadar piala, melainkan bukti nyata ketekunan santri dalam mendalami literatur keagamaan yang menjadi warisan intelektual Islam.
Kisah sukses ini dimulai dari disiplin harian membaca dan mengkaji kitab kuning. Pembinaan intensif oleh para kiai dan ustadz BUDi IHSAN menjadi kunci utama. Mereka menerapkan metode sorogan dan bandongan yang efektif untuk memastikan pemahaman mendalam, terutama dalam kajian Tafsir Klasik.
Salah satu peraih juara, Muhammad Alim, membagikan rahasianya. Ia fokus memahami konteks sejarah dan linguistik dari setiap ayat Al-Qur’an. Baginya, memahami Tafsir Klasik bukan hanya menghafal, tetapi menemukan hikmah dan relevansinya untuk kehidupan modern. Pendekatan ini terbukti efektif di arena MQKN.
Kompetisi MQKN sendiri merupakan ajang bergengsi yang menguji kemampuan santri dalam membaca, memahami, dan menganalisis kitab-kitab induk ilmu agama. Kemenangan BUDi IHSAN, khususnya di cabang Tafsir Klasik, menegaskan bahwa tradisi keilmuan pesantren tetap relevan dan unggul di kancah nasional.
Menurut Pimpinan Pondok, Kiai Husein, penguasaan terhadap Tafsir Klasik adalah fondasi penting bagi seorang santri. “Dari sanalah kita bisa memahami keindahan dan kedalaman Islam yang sesungguhnya. Prestasi ini adalah bonus dari ketulusan mereka dalam menuntut ilmu,” jelasnya.
Materi Tafsir yang dikuasai santri ini mencakup karya-karya monumental seperti Tafsir Jalalain dan Tafsir Ibnu Katsir. Mendalami karya-karya tersebut membutuhkan ketelitian dan keilmuan yang holistik, tidak hanya bahasa Arab, tetapi juga ilmu ushul fiqih dan musthalah hadits.
Kini, para santri BUDi IHSAN yang berprestasi ini menjadi inspirasi bagi rekan-rekan mereka. Mereka membuktikan bahwa dengan kesungguhan, santri mampu menjadi penjaga tradisi sekaligus pencetak prestasi di tingkat nasional. Jalan menuju juara adalah jalan ilmu.
Kesuksesan ini diharapkan memicu semangat pesantren lain untuk terus memperkuat kajian kitab kuning. BUDi IHSAN menunjukkan bahwa warisan ilmu agama Islam, terutama Tafsir, adalah sumber daya tak ternilai yang harus terus dilestarikan dan diunggulkan.
