Pesantren adalah miniatur masyarakat yang padat, di mana santri dari berbagai latar belakang suku, ekonomi, dan bahkan pemahaman keagamaan berkumpul dan tinggal bersama dalam satu atap selama bertahun-tahun. Model kehidupan komunal 24 jam ini secara inheren menanamkan nilai-nilai praktis tentang bagaimana seharusnya Hidup Berdampingan dengan orang lain yang berbeda, sebuah pelajaran yang sangat efektif dalam mengikis sifat fanatik atau eksklusif. Konsep Hidup Berdampingan di pesantren bukan hanya teori, melainkan praktik harian yang menguji kesabaran dan toleransi. Lingkungan ini memaksa santri untuk berinteraksi, bernegosiasi, dan berbagi, menjadikannya sarana peer education yang kuat untuk moderasi beragama. Sebuah laporan dari Yayasan Pendidikan dan Budaya Islam pada 20 Februari 2025, menyimpulkan bahwa interaksi harian di asrama adalah faktor utama yang membantu 90% santri mengembangkan sikap inklusif dan mampu Hidup Berdampingan secara harmonis.
Inti dari kehidupan komunal pesantren adalah berbagi segala sesuatu, mulai dari kamar tidur, kamar mandi, hingga tugas piket harian. Santri mungkin datang dengan kebiasaan dan latar belakang budaya yang berbeda—satu dari Jawa, yang lain dari Sumatra, dan yang lainnya lagi dari Kalimantan—tetapi mereka terikat oleh aturan tunggal pesantren. Keterpaksaan untuk Hidup Berdampingan ini secara alamiah mengajarkan fleksibilitas dan adaptasi. Mereka belajar bahwa cara pandang mereka bukanlah satu-satunya kebenaran; mereka harus berkompromi mengenai kapan waktu tidur, bagaimana mengatur barang-barang pribadi, dan bagaimana menyelesaikan perselisihan kecil. Pengalaman real-time ini efektif menghancurkan prasangka dan pandangan sempit yang mungkin mereka bawa dari lingkungan asal.
Selain asrama, kegiatan belajar mengajar juga mencerminkan pentingnya Hidup Berdampingan dalam keragaman intelektual. Melalui tradisi Bahtsul Masa’il (diskusi masalah-masalah keagamaan), santri dihadapkan pada perbedaan pendapat (khilafiyah) antar mazhab dan ulama. Mereka didorong untuk memahami dasar argumentasi yang berbeda-beda sebelum mengambil sikap. Proses ini menanamkan kesadaran bahwa kebenaran memiliki banyak dimensi dan bahwa perbedaan pandangan adalah keniscayaan dalam Islam. Ini secara fundamental mengikis bibit-bibit fanatisme, karena santri diajarkan untuk menghargai metodologi, bukan hanya hasil akhir. Pada sesi halaqah mingguan di Pondok Pesantren Nurul Iman, yang diadakan setiap hari Minggu sore, kiai secara teratur menekankan bahwa menghormati pendapat yang berbeda adalah bagian dari adab (etika) keilmuan.
Dengan demikian, pesantren berhasil mengikis fanatisme melalui dua jalur: praktik sosial dan intelektual. Secara sosial, kehidupan asrama mengajarkan toleransi praktis dan empati. Secara intelektual, kurikulum mengajarkan keragaman pandangan yang melahirkan kerendahan hati ilmiah. Lulusan pesantren pada akhirnya menjadi duta-duta kerukunan yang secara alami siap untuk Hidup Berdampingan dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, karena mereka telah ditempa dalam laboratorium keragaman selama bertahun-tahun.
