Budi Ihsan Tekankan Pentingnya Menjaga Lisan di Media Sosial

Dalam banyak kesempatan pengajian, pimpinan pesantren selalu tekankan pentingnya integritas diri saat berselancar di internet. Media sosial seringkali menjadi jebakan bagi seseorang untuk terjebak dalam ghibah digital, fitnah, hingga penyebaran berita yang belum jelas kebenarannya. Di Budi Ihsan, para santri diajarkan bahwa setiap huruf yang mereka unggah di kolom komentar atau status pribadi akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Prinsip ini adalah bentuk perluasan dari hadis Nabi tentang keselamatan manusia yang terletak pada kemampuannya dalam menjaga lidah.

Aktivitas menjaga lisan di dunia maya memerlukan kesadaran tingkat tinggi karena sifat media sosial yang seringkali membuat orang merasa anonim dan bebas berpendapat tanpa sekat. Santri dididik untuk tidak mudah terpancing emosi oleh komentar negatif atau perdebatan yang tidak berujung di platform publik. Mereka diarahkan untuk menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah yang menyejukkan, bukan sebagai tempat untuk memamerkan kecerdasan dengan cara merendahkan orang lain. Dengan demikian, kehadiran santri di ruang digital diharapkan dapat menjadi penawar di tengah panasnya arus provokasi.

Lebih jauh lagi, edukasi di Budi Ihsan mencakup cara menyaring informasi sebelum membagikannya. Menjaga lisan juga berarti tidak menjadi jembatan bagi tersebarnya hoaks atau informasi yang dapat memecah belah umat. Santri dilatih untuk memiliki sikap tabayyun (verifikasi) yang kuat. Sebelum memencet tombol share, mereka harus memastikan apakah informasi tersebut bermanfaat atau justru mengandung mudarat. Inilah implementasi nyata dari adab islami yang diadaptasikan ke dalam teknologi modern.

Penggunaan media sosial bagi seorang santri haruslah memiliki tujuan yang mulia. Pihak pesantren mendorong para santri untuk berbagi kutipan hikmah, rangkuman pengajian, atau informasi positif yang dapat menginspirasi masyarakat luas. Dengan mengisi ruang digital dengan konten-konten yang beradab, secara otomatis ruang bagi konten negatif akan semakin sempit. Strategi “dakwah digital” ini menjadi fokus penting di Budi Ihsan agar santri tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam menyebarkan kebaikan di internet.