Tantangan di era informasi saat ini menuntut setiap individu untuk memiliki kecakapan dalam menyaring setiap konten yang masuk, melalui program Budi Ihsan cerdas literasi yang menjadi pondasi utama bagi pengembangan karakter santri. Sebagai bagian dari kurikulum unggulan, institusi ini merumuskan sebuah strategi santri tangkal terhadap penyebaran informasi yang tidak valid demi menjaga kondusivitas sosial di lingkungan pendidikan dan masyarakat umum. Setiap pelajar di sini dilatih untuk mengidentifikasi hoaks dan berita palsu dengan cara melakukan tabayyun atau cek fakta secara mendalam, serta dibekali dengan kemampuan manajemen konflik pengurus agar setiap disinformasi yang muncul tidak memicu perselisihan, melainkan dapat diselesaikan dengan kepala dingin dan pemikiran yang logis.
Cerdas literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, melainkan tentang bagaimana memahami konteks dan kebenaran di balik sebuah teks. Di Budi Ihsan, santri diberikan pelatihan khusus untuk membedakan antara fakta, opini, dan propaganda. Mereka diajarkan untuk tidak mudah tergiur dengan judul berita yang provokatif dan selalu mencari sumber kedua sebagai perbandingan. Dalam dunia digital yang serba cepat, kecenderungan untuk membagikan informasi tanpa verifikasi adalah ancaman nyata, sehingga kedisiplinan dalam melakukan cek fakta menjadi keharusan yang ditekankan setiap harinya.
Strategi yang diterapkan mencakup diskusi kelompok terfokus di mana santri menganalisis kasus-kasus hoaks yang sedang viral. Mereka membedah bagaimana berita palsu tersebut dikonstruksi dan apa tujuan di balik penyebarannya. Dengan memahami pola kerja pembuat hoaks, santri menjadi lebih waspada dan tidak mudah menjadi korban penipuan informasi. Pendidikan ini sangat krusial agar santri tumbuh menjadi pribadi yang kritis namun tetap santun dalam berpendapat di ruang digital, sesuai dengan nilai-nilai akhlakul karimah yang diajarkan di pesantren.
Selain literasi media, aspek psikologis juga disentuh untuk membangun ketahanan mental santri. Hoaks sering kali bermain dengan emosi pembacanya, seperti rasa takut atau amarah. Oleh karena itu, santri diajarkan untuk mengendalikan emosi saat menerima berita yang mengejutkan. Mereka didorong untuk bersikap tenang dan rasional, sehingga keputusan yang diambil berdasarkan data yang valid, bukan berdasarkan dorongan perasaan sesaat. Kematangan emosional ini akan sangat membantu mereka saat kelak menghadapi realitas sosial yang penuh dengan dinamika perbedaan pendapat di masyarakat luas.
