Kampanye yang mereka usung secara masif adalah Gerakan Makan Tanpa Sisa, sebuah upaya untuk mengembalikan esensi syukur dalam budaya makan santri. Dalam tradisi Islam, makanan adalah rezeki yang suci, dan menyisakan makanan dianggap sebagai tindakan tabzir (mubazir) yang sangat dilarang. Di Budi Ihsan, santri dididik untuk mengambil porsi secukupnya sesuai dengan kapasitas perut mereka. Prinsipnya sederhana: lebih baik mengambil sedikit lalu menambah, daripada mengambil banyak namun akhirnya dibuang ke tempat sampah. Pendidikan karakter ini dimulai dari meja makan, tempat di mana disiplin dan rasa empati diasah setiap harinya.
Langkah ini kemudian memicu terjadinya Revolusi Dapur di lingkungan internal pesantren. Pihak pengelola dapur kini tidak lagi hanya fokus pada kecepatan penyajian, tetapi juga pada manajemen stok dan selera santri. Tim dapur melakukan riset mingguan untuk mengetahui menu apa yang paling disukai dan mana yang sering tersisa. Dengan data tersebut, mereka melakukan efisiensi bahan baku dan inovasi resep agar makanan yang disajikan selalu habis disantap dengan lahap. Revolusi ini juga mencakup pengolahan sisa bahan mentah yang tidak terpakai menjadi pupuk organik, sehingga dapur pesantren benar-benar mendekati konsep zero waste.
Penerapan program ini di lingkup Ponpes Budi Ihsan dilakukan dengan pengawasan yang unik. Ada “Laskar Piring Bersih” yang terdiri dari santri-santri teladan yang bertugas mengingatkan rekan-rekannya di ruang makan. Mereka tidak menggunakan cara kekerasan, melainkan dengan pendekatan persuasif dan edukatif. Jika ada piring yang masih menyisakan nasi atau lauk, santri tersebut akan diajak berdialog tentang jerih payah petani yang menanam padi dan nelayan yang mencari ikan. Pendekatan emosional ini terbukti jauh lebih efektif dalam mengubah kebiasaan daripada sekadar memberikan denda atau hukuman fisik.
Dampak dari gerakan ini sangat luar biasa. Volume sampah organik dari Dapur Ponpes Budi Ihsan menurun drastis hingga 80%. Selain lingkungan menjadi lebih bersih dan tidak berbau, anggaran belanja dapur pesantren juga menjadi lebih efisien. Dana yang berhasil dihemat dari pengurangan pemborosan makanan dialihkan untuk meningkatkan kualitas nutrisi santri, seperti menambah porsi buah-buahan dan protein hewani. Dengan kata lain, dengan berhenti membuang makanan, kualitas hidup seluruh warga pesantren justru meningkat secara signifikan.
